Prospek Pasar Saham di Tahun 2019

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Tahun 2018 tidak terlalu menyenangkan bagi investor dan trader saham. Sesuai prediksi sebelumnya, pasar saham hanya menguat sebentar di paruh pertama, dan kemudian melemah di paruh kedua. IHSG sempat mencapai level tertinggi di 6.693, dan akhirnya ditutup di level 6.194, yaitu turun sekitar -6,22% sepanjang tahun 2018. Selanjutnya kita memasuki tahun 2019. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana prospek pasar saham di tahun 2019. Tulisan ini akan membahas peluang dan tantangan yang akan dihadapi IHSG di tahun 2019

Prospek Pasar Saham Di Tahun 2019

Di tahun 2019, pasar saham berpotensi akan menghadapi lebih banyak tantangan yang lebih besar dibandingkan tahun 2018. Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa memberikan sentimen negatif pada pergerakan pasar saham di tahun 2019:

  1. Perang dagang AS-China. Perseteruan perang dagang antara dua negara tersebut berpotensi memanas di tahun 2019. Bulan Januari, akan dimulai perundingan, jika dalam 3 bulan gagal memberikan kesepakatan akan mempengaruhi perdagangan global dan ekonomi dunia
  2. Kebijakan Fed yang lebih ketat. Sebelumnya bursa saham mendapat keuntungan dari kebijakan lunak Fed, sekarang setelah kebijakan lunak Fed berakhir, akan memberi tekanan pada bursa saham dan termasuk Rupiah. Diperkirakan suku bunga AS masih berpotensi naik hingga 2 atau 3 kali di 2019
  3. Kondisi geopolitik dan ekonomi di Eropa. Kondisi geopolitik terutama karena Brexit, perang anggaran antara Italia dan Uni Eropa, berpotensi menimbulkan riak pada pasar saham dunia
  4. Kondisi politik di AS. Perseteruan politik di AS kemungkinan semakin memanas di 2019, terpecahnya kekuatan Republik dan Demokrat di Senat dan Konggres, government shutdown masih berlanjut karena Trump meminta budget untuk pembuatan tembok.
  5. Melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat, dari 3,8% di 2018 menjadi 3,5% di 2019 (Goldman Sachs)
  6. Kondisi ekonomi Indonesia kemungkinan cenderung melambat. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen sampai 5,4 persen pada 2019 mendatang. Konsumsi terlihat melambat, namun inflasi masih terjaga.

Sementara itu beberapa kondisi yang bisa memberikan sentimen positif pada pasar saham adalah:

  1. Tahun politik. Akan ada pemilu Presiden di 17 April 2019. Biasanya di tahun politik, fluktuasi cenderung tinggi, namun positifinya banyak dana beredar yang kemungkinan bisa mendongkrak konsumsi. Bertentangan dengan pendapat umum, secara statistik pasar saham di tahun Pemilu justru naik, apalagi kalau Presiden yang terpilih sesuai harapan pasar. Bisa dibaca di sini tentang Pasar Saham Dan Pemilu

 

Menurut saya, investor dan trader saham harus lebih waspada di sepanjang tahun 2019. Kemungkinan pasar saham bergerak dalam pola konsolidasi pada tahun 2019. Fluktuasi di pasar saham masih banyak terjadi, terutama karena faktor eksternal ekonomi dunia. Pada saatnya riak-riak ekonomi global kalau semakin parah akan mempengaruhi ekonomi Indonesia.

Di paruh pertama 2019, kemungkinan lebih banyak gejolak menjelang Pemilu. Sedangkan di paruh kedua 2019, bila hasil Pemilu sesuai harapan pasar, bolehlah berharap ada sentimen positif untuk pasar saham. Tapi secara keseluruhan, saya pribadi tidak terlalu optimis pada tahun 2019. Walaupun ada tahun politik, disarankan tidak terlalu berharap akan mendongkrak tajam pasar saham, karena kondisi ekonomi memang sedang melambat.

Jadi sekali lagi saran saya, lebih hati-hati dalam melakukan trading dan investasi saham di tahun 2019.

Butuh bimbingan untuk trading saham di tahun 2019?

Gunakan layanan rekomendasi saham dari JurusCUAN.com yang dikirimkan langsung ke email Anda. Anda akan mendapatkan sinyal beli dan jual saham, lengkap dengan level cut loss dan target harganya.

regards
Desmond Wira
http://www.juruscuan.com